Pendidikan yang Memerdekakan

pendidikan yang memerdekakan
pendidikan yang memerdekakan

Pendidikan yang memerdekakan dengan merdeka belajar ibarat dua sisi mata uang. Pendidikan yang memerdekakan selayaknya sudah dilaksanakan sekolah sebagai penyelenggara layanan pendidikan. Merdeka belajar selayaknya sudah dinikmati siswa sejak K2006, K 2013 diberlakukan. Apa yang dimaksud pendidikan yang memerdekakan dan merdeka belajar itu? Apakah pendidikan yang memerdekakan dan merdeka belajar hanya dilakukan di sekolah penggerak saja? Rekan guru hebat … mari cari tahu lebih dalam.

pendidikan yang memerdekakan
pendidikan yang memerdekakan

Pengertian Pendidikan yang Memerdekakan

Pendidikan yang memerdekakan dan merdeka belajar mulai dikenal sejak tahun lalu (2020) yang tidak lain merupakan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Kemunculan istilah merdeka belajar dan pendidikan yang memerdekakan sempat meninggalkan tanda tanya karena hampir bersamaan dengan edaran yang memungkinkan penyederhanaan rencana pelaksanaan pembelajaran menjadi RPP 1 lembar atau RPP 1 halaman. Seolah tersirat makna ‘kebebasan’ namun tidak/belum jelas arahnya.

Merdeka belajar secara bahasa dapat dimaknai sebagai bebas atau atau tidak tergantung pada seseorang untuk belajar. Jadi jelas bahwa ungkapan merdeka belajar itu adalah ungkapan yang dilihat dari sudut pandang siswa atau peserta didik. Dengan kata lain dapat dinyatakan, merdeka belajar ialah dibebaskannya siswa atau peserta didik belajar menurut karakteristik yang menjadi ‘kekuatan’ baginya, bukan belajar dengan cara yang dipaksakan guru kepadanya.

pendidikan yang memerdekakan
Pendidikan yang memerdekakan

Pendidikan diartikan sebagai ‘tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak’. Pendidik dapat menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak / siswa / peserta didik, namun perlu disadari bahwa guru / pendidik tidak dapat mengganti/mengubah kodrat dasar masing-masing. Pada titik ini kita semua harus menyadari bahwa yang bisa kita lakukan adalah menuntun agar mereka dapat maju dan berkembang sesuai dan atau berdasar kodrat yang antara lain mencakup potensi, karakteristik, kebutuhan, tahap perkembangan, tahap capaian pembelajaran setiap anak/siswa.

“Pendidikan merdeka itu berdaya upaya dengan sengaja untuk memajukan hidup – tumbuhnya budi pekerti (rasa, pikiran, roh) dan badan anak dengan jalan pengajaran, teladan dan pembiasaan jangan disertai perintah dan paksaan.”

Ki Hajar Dewantara

Pendidikan yang memerdekakan dapat dimaknai sebagai usaha, proses, cara, perbuatan, pengajaran menuntun anak-anak / siswa / peserta didik agar mereka dapat maju dan berkembang mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sesuai dan atau berdasar kodrat setiap siswa yang antara lain mencakup potensi, karakteristik, kebutuhan, tahap perkembangan, tahap capaian pembelajaran setiap anak/siswa.

Dengan demikian pendidikan yang memerdekakan anak didik itu berarti guru dan sekolah berupaya secara sengaja melaksanakan pembelajaran berdasar pada potensi, karakteristik, kebutuhan, tahap perkembangan, tahap capaian pembelajaran setiap anak/siswa. Pendidikan yang memerdekakan seperti ini juga dikenal sebagai pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Tahapan Pendidikan yang Memerdekakan

Pendidikan yang memerdekakan identik dengan pembelajaran sesuai tingkat kemampuan dan dilaksanakan melalui tahapan:

  1. Asesmen

Kegiatan asesmen ini biasa disebut asesmen diagnostik. Yang perlu dikenali antara lain: potensi, karakteristik, kebutuhan, tahap perkembangan peserta didik, tahap capaian pembelajaran anak, dll.

2. Perencanaan

Setelah berhasil mengidentifikasi potensi, karakteristik, tingkat capaian, kemampuan, maka bagian berikutnya adalah menyusun proses pembelajaran yang sesuai dengan data asesmen kita. Perencanaan ini juga termasuk pengelompokkan peserta didik dalam tingkat yang sama. Dengan penyusunan pembelajaran yang sesuai dengan capaian ataupun tingkat kemampuan peserta didik ini, maka kita menempatkan peserta didik sebagai pusat utama
pembelajarannya, sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara

3. Pembelajaran

Selama proses pembelajaran ini, perlu dibuat adanya asesmen-asesmen berkala untuk melihat proses pemahaman murid, kebutuhan, kemajuan selama pembelajaran atau biasa disebut asesmen formatif. 2) Adapun asesmen sumatif, sebagai proses evaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran di akhir suatu pembelajaran juga diperlukan untuk membantu pendidik merancang projek berikutnya.

Praktek Pendidikan yang Memerdekakan

Bagaimana praktek Pendidikan yang memerdekakan atau yang biasa disebut merdeka belajar itu? Mungkin pertanyaan ini muncul dalam pemikiran kita. Bagaimana peran sekolah, apa yang harus dilakukan kepala sekolah? Apa yang harus dilakukan guru dan pendidik?

Logika normalnya, pihak sekolah dan guru berkewajiban memfasilitasi agar merdeka belajar dan pendidikan yang memerdekakan dapat terwujud. Praktek merdeka belajar dan pendidikan yang memerdekakan akan kita kupas lagi pada posting selanjutnya.

Media Belajar Pendidikan yang Memerdekakan

Pendidikan yang memerdekakan sarat dengan aktivitas melibatkan guru, siswa dan proses serta konten belajar. Sering melibatkan asesmen diagnostik, formatif maupun sumatif. Ini karena siswa memiliki kodrat dasar / sifat-sifat yang berbeda-beda maka sangat dianjurkan banyak dilakukan asesmen dalam berbagai bentuk pernyataan dan pertanyaan. Media pendidikan yang memerdekakan yang sangat kaya fitur adalah menggunakan media elektronik / digital, walaupun dengan media konvensional juga dimungkinkan.

Dewasa ini banyak sekali media elektronik / digital yang dapat digunakan. Salah satu yang menurut hemat saya sangat memadai untuk media merdeka belajar dan pendidikan yang memerdekakan ialah Moodle. Aplikasi ini sangat kaya dengan fitur-fitur yang dapat mendukung pelaksanaan merdeka belajar dan pendidikan yang memerdekakan.

Demikian bahan diskusi kita pendidikan yang memerdekakan. Semoga bermanfaat untuk kita …. Semangat !!!

Diolah dari Materi Pelatihan Komite Pembelajaran Sekolah Penggerak SMK Pusat Keunggulan.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *