Kategori: supervisi

kegiatan supervisi meliputi pembinaan guru dan kepala sekolah, pemantauan keterlaksanaan standar nasional pendidikan, pelatihan dan pembimbingan guru dan kepala sekolah serta kegiatan penilaian kinerja guru (PKG) dan atau kepala sekolah (PKKS).

Pengawas Sekolah

pengawas-sekolah

Tentang Jabatan Pengawas Sekolah

Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan.
Kegiatan pengawasan oleh Pengawas Sekolah meliputi aktifitas pengawas dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, evaluasi hasil pelaksanaan program, dan melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional Guru.

Pengawas Sekolah

Kompetensi Pengawas Sekolah

Tuntutan kegiatan pengawasan mengharuskan seseorang yang memasuki jabatan pengawas sekolah memiliki kompetensi-kompetensi sebagai berikut:

  1. Kompetensi Kepribadian
  2. Kompetensi Supervisi Manajerial
  3. Kompetensi Supervisi Akademik
  4. Kompetensi Evaluasi Pendidikan
  5. Kompetensi Penelitian Pengembangan
  6. Kompetensi Sosial

Kompetensi kepribadian yang diharapkan dari seorang pengawas sekolah mencakup rasa tanggung jawab sebagai pengawas satuan pendidikan, kreatif dalam bekerja, memiliki rasa ingin tahu tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang menunjang tugasnya, menumbuhkan motivasi kerja pada diri sendiri dan pada stakeholder pendidikan.

Kompetensi supervisi manajerial meliputi penguasaan metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi, menyusun program kepengawasan, menyusun metode kerja dan instrumen yang diperlukan, menyusun laporan hasil-hasil pengawasan dan menindaklanjutinya untuk perbaikan program pengawasan berikutnya, membina kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan , membina kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling, mendorong guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya ,memantau pelaksanaan standar nasional
pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah dalam mempersiapkan akreditasi sekolah.

Kompetensi Supervisi Akademik meminta pengawas sekolah memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik tiap mata pelajaran, pemahaman konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan, membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP. Selanjutnya memiliki kompetensi membimbing guru memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat
mengembangkan berbagai potensi siswa, membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di
kelas, laboratorium, dan atau di lapangan), membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan, memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran/
bimbingan.

Kompetensi Evaluasi Pendidikan mengharuskan pengawas sekolah memiliki kompetensi menyusun kriteria dan indikator keberhasilan pendidikan dan pembelajaran/bimbingan, membimbing guru dalam menentukan aspek-aspek yang penting dinilai dalam pembelajaran/bimbingan, menilai kinerja kepala sekolah, kinerja
guru dan staf sekolah dalamm elaksanakan tugas pokok dan tanggung jawabnya, memantau pelaksanaan pembelajaran/
bimbingan dan hasil belajar siswa serta menganalisisnya untuk perbaikan mutu pembelajaran/bimbingan, membina guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk kepentingan pendidikan
dan pembelajaran/bimbingan, mengolah dan menganalisis data hasil
penilaian kinerja kepala sekolah, kinerja guru dan staf sekolah.

Kompetensi Penelitian Pengembangan meminta pengawas sekolah menguasai berbagai pendekatan, jenis, dan metode penelitian dalam pendidikan; menentukan masalah kepengawasan yang penting diteliti, menyusun proposal penelitian pendidikan, melaksanakan penelitian pendidikan untuk pemecahan masalah pendidikan, mengolah dan menganalisis data hasil penelitian pendidikan baik data kualitatif maupun data kuantitatif, menulis karya tulis ilmiah (KTI) dalam bidang pendidikan dan atau bidang kepengawasan dan memanfaatkannya untuk perbaikan mutu pendidikan, menyusun pedoman/panduan dan atau buku/modul yang diperlukan untuk
melaksanakan tugas pengawasan, memberikan bimbingan kepada guru tentang penelitian tindakan kelas, baik perencanaan maupun pelaksanaannya.

Kompetensi Sosial mampu bekerja sama dengan berbagai pihak
dalam rangka meningkatkan kualitas diri untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, aktif dalam kegiatan asosiasi pengawas sekolah.

Program Kerja Pengawas Sekolah

Pengawas sekolah melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial berdasarkan program kerja pengawasan. Program pengawasan ini mencakup:

  1. menyusun program pengawasan;
  2. melaksanakan pembinaan Guru dan/atau Kepala Sekolah;
  3. memantau pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan;
  4. melaksanakan penilaian kinerja Guru dan/atau Kepala Sekolah;
  5. melaksanakan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan pada sekolah binaan;
  6. mengevaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan tingkat kabupaten/kota atau provinsi;
  7. menyusun program pembimbingan dan pelatihan professional Guru dan Kepala Sekolah di KKG/MGMP/MGP dan/atau KKKS/MKKS dan sejenisnya;
  8. melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional bagi Guru dan Kepala Sekolah;
  9. melaksanakan pembimbingan dan pelatihan Kepala Sekolah dalam menyusun program sekolah, rencana kerja, pengawasan dan evaluasi, kepemimpinan sekolah, dan sistem informasi dan manajemen;
  10. mengevaluasi hasil pembimbingan dan pelatihan profesional Guru dan Kepala Sekolah.
beban kerja pengawas sekolah

Program kerja pengawas sekolah disusun dalam format program tahunan dan program semester. Program tahunan pengawas sekolah meliputi program untuk seluruh satuan pendidikan di bawah binaannya. Program semester memuat kegiatan-kegiatan pengawas sekolah yang akan dilakukan pada setiap sekolah binaan.

Pelaksanaan Program Pengawas Sekolah

Pengawas sekolah bekerja sama dengan berbagai pihak baik unsur dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, komite sekolah pada sekolah-sekolah binaan dalam rangka melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Pelaksanaan pengawasan pada satuan pendidikan, dilakukan dengan berbagai model, teknik dan metode yang disesuaikan dengan kondisi sekolah untuk menjamin akurasi data hasil pengawasan.

Metode kerja pengawas sekolah pada tugas pokok supervisi manajerial yang penting meliputi monitoring dan evaluasi, FGD/DKT,
metode Delphi, dan workshop.

Pelaksanaan pengawasan/supervisi akademik menerapkan pendekatan, model dan teknik yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah dan guru binaan. Pendekatan yang dimaksud mencakup non direktif, kolaboratif dan direktif. Model supervisi yang diperlukan dan dapat dilaksanakan meliputi Model Supervisi Saintifik, Model Supervisi Artistik dan Model Supervisi Klinis. Adapun teknik-teknik yang dikembangkan meliputi teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok, baik di dalam ataupun di luar kelas.

Laporan Pengawasan Pengawas Sekolah
  1. Laporan pembinaan guru dan/atau kepala sekolah binaan
  2. Laporan pemantauan pelaksanaan SNP
  3. Laporan penilaian kinerja guru dan/atau kepala sekolah
  4. Laporan pembimbingan dan pelatihan profesional guru di KKG/MGMP/MGBK/MGTIK dan/atau kepala sekolah di KKKS/MKKS dan sejenisnya
  5. Laporan pembimbingan dan pelatihan profesional kepala sekolah dalam pengelolaan sekolah
  6. Laporan evaluasi pelaksanaan dan hasil program pengawasan
  7. Laporan evaluasi hasil pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan/atau kepala sekolah

Demikian diskusi singkat tentang jabatan pengawas sekolah. Semoga menginspirasi pembaca yang berniat memasuki dunia tugas pok dan fungsi pengawas sekolah. Semangat !!

Best Practice Pengawas Sekolah

best-practice-pengawas-sekolah

Latar Belakang Best Practice Pengawas Sekolah

Best Practice Pengawas Sekolah bermunculan sebagai dampak pelaksanaan tugas pokok dan fungsi jabatan pengawas sekolah. Pengawas Sekolah adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan. Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan. Kegiatan pengawasan adalah kegiatan Pengawas Sekolah dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, evaluasi hasil pelaksanaan program, dan melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional Guru. Berdasar pada pelaksanaan berbagai jenis tugas dan fungsi pengawas sekolah inilah lahir best practice pengawas sekolah.

best-practice-pegawas-sekolah
best-practice-pegawas-sekolah

Pengertian Best Practice Pengawas Sekolah

Best practice dapat diartikan sebagai pengalaman terbaik yang pernah dan atau masih dilakukan. Frasa pengawas sekolah merujuk kepada jabatan yang memiliki tugas, tanggung jawab menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, mengevaluasi hasil pelaksanaan dan melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional guru.

Best practice pengawas sekolah dapat diartikan sebagai pengalaman terbaik seorang pengawas sekolah dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan pengawasan, mengevaluasi pengawasan maupun melaksanakan pembimbingan dan pelatihan guru.

Best practice pengawas sekolah lazimnya disajikan dalam bentuk karya tulis ilmiah dan dibukukan. Penulisan best practice pengawas sekolah mengikuti pedoman terkait seperti di diskusikan pada posting penulisan best practice pengawas. Foto di atas mengilustrasikan bentuk dan redaksi kover best practice pengawas sekolah tahun 2019.

Contoh Best Practice Pengawas Sekolah

Best practice pengawas sekolah dapat berkembang dalam beraneka bentuk. Tentu saja tidak ada satu bentuk baku mengingat ini adalah pengalaman terbaik masing-masing pengawas sekolah. Sekedar contoh, penulis menyampaikan best practice dengan judul “Pemanfaatan Cloud Computing untuk Meningkatkan Ketersediaan Dokumen Supervisi pada Sekolah Binaan di Kota Banjarmasin”.

best practice pengawas sekolah
best practice pengawas sekolah

Best practice pengawas sekolah yang penulis ajukan pada ajang Pemilihan Pengawas Sekolah Berprestasi Tahun 2019 ini menceritakan pengalaman terbaik penulis sebagai pengawas sekolah dalam melaksanakan program pengawasan. Syukur alhamdulillah … karya sederhana ini mendapat apresiasi sebagai Juara 2 Pengawas Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2019 yang lalu.

Pedoman Pembuatan Best Practice Pengawas Sekolah

Best practice pengawas sekolah menurut pedoman terdiri atas tiga bagian utama yaitu bagian awal, bagian isi dan bagian penutup.

Bagian awal meliputi halaman judul (cover), halaman pernyataan keaslian karya yang ditandatangani, halaman lembar persetujuan dari atasan langsung dan atau pejabat terkait, abstrak atau ringkasan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran.

Bagian isi terdiri atas:

  • Bab Pendahuluan, berisi latar belakang, masalah, tujuan, dan manfaat best practice yang dilaksanakan.
  • Bab Kajian Pustaka, berisi teori, kebijakan, pedoman dan/atau praktik yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan masalah.
  • Bab Metode, berisi tentang prosedur dan perangkat atau instrumen, dan cara pemecahan masalah.
  • Bab Hasil dan Pembahasan, Penyajian dan analisis data yang mencakup keadaan awal, proses, dan hasil akhir yang diperoleh dari hasil pelaksanaan serta dampaknya bagi komunitas sekolah.
  • Bab Simpulan dan Rekomendasi

Bagian Penutup berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran

Teknik Penulisan Best Practice Pengawas Sekolah

Pada umumnya teknik penulisan best practice di berbagai jenjang kurang lebih serupa. Teknik penulisan best practice telah diatur sebagai berikut:

  • Sampul depan yang digunakan pada karya best practice sebagaimana ditunjukkan pada gambar di atas.
  • Jumlah halaman karya 15-20 halaman tidak termasuk lampiran, kertas ukuran A4.
  • Karya diketik dengan spasi 1,5; huruf Times New Roman; ukuran huruf 12; batas tepi/margin kiri 4 cm, kanan 3 cm, atas 3 cm, dan bawah 3 cm. Khusus untuk ukuran huruf tabel dan gambar disesuaikan dengan kebutuhan.
  • File karya Best Practice dibuat dalam satu file yang utuh tidak terpisah-pisah antara judul-kata pengantar-daftar isi-bab-daftar pustaka.

Pada teknik penulisan ini menurut penulis yang menjadi tantangan adalah pada aturan item ke 4 yaitu karya best practice ditulis menjadi satu file tidak terpisah antar bagian. Hal ini meminta kita menerapkan teknik penulisan dokumen dengan beberapa teknik yang jarang digunakan (beberapa yang lain mungkin rajin atau tidak tahu karena diketikkan orang lain).

ASPEK KEASLIAN BEST PRACTICE PENGAWAS SEKOLAH

Best practice pengawas sekolah sangat menekankan keaslian naskah. Hal ini diukur dengan pengecekan similaritas karya dimana peserta pemilihan diminta mengirimkan naskah dalam format MS word. Karya best practice maksimal boleh memiliki similaritas maksimal 30 %. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar rekan-rekan menekan sekecil mungkin ‘copy paste’ yang kadang tidak kita sadari jumlahnya.

Demikian diskusi kecil tentang Best practice pengawas sekolah . Semoga bermanfaat bagi rekan-rekan yang memerlukannya.