Pengawas Sekolah

pengawas-sekolah

Tentang Jabatan Pengawas Sekolah

Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan.
Kegiatan pengawasan oleh Pengawas Sekolah meliputi aktifitas pengawas dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, evaluasi hasil pelaksanaan program, dan melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional Guru.

Pengawas Sekolah

Kompetensi Pengawas Sekolah

Tuntutan kegiatan pengawasan mengharuskan seseorang yang memasuki jabatan pengawas sekolah memiliki kompetensi-kompetensi sebagai berikut:

  1. Kompetensi Kepribadian
  2. Kompetensi Supervisi Manajerial
  3. Kompetensi Supervisi Akademik
  4. Kompetensi Evaluasi Pendidikan
  5. Kompetensi Penelitian Pengembangan
  6. Kompetensi Sosial

Kompetensi kepribadian yang diharapkan dari seorang pengawas sekolah mencakup rasa tanggung jawab sebagai pengawas satuan pendidikan, kreatif dalam bekerja, memiliki rasa ingin tahu tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang menunjang tugasnya, menumbuhkan motivasi kerja pada diri sendiri dan pada stakeholder pendidikan.

Kompetensi supervisi manajerial meliputi penguasaan metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi, menyusun program kepengawasan, menyusun metode kerja dan instrumen yang diperlukan, menyusun laporan hasil-hasil pengawasan dan menindaklanjutinya untuk perbaikan program pengawasan berikutnya, membina kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan , membina kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling, mendorong guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya ,memantau pelaksanaan standar nasional
pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah dalam mempersiapkan akreditasi sekolah.

Kompetensi Supervisi Akademik meminta pengawas sekolah memahami konsep, prinsip, teori dasar, karakteristik tiap mata pelajaran, pemahaman konsep, prinsip, teori/teknologi, karakteristik, dan kecenderungan perkembangan proses pembelajaran/bimbingan, membimbing guru dalam menyusun silabus tiap mata pelajaran berlandaskan standar isi, standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan prinsip-prinsip pengembangan KTSP. Selanjutnya memiliki kompetensi membimbing guru memilih dan menggunakan strategi/metode/teknik pembelajaran/bimbingan yang dapat
mengembangkan berbagai potensi siswa, membimbing guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), membimbing guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan (di
kelas, laboratorium, dan atau di lapangan), membimbing guru dalam mengelola, merawat, mengembangkan dan menggunakan media pendidikan dan fasilitas pembelajaran/bimbingan, memotivasi guru untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran/
bimbingan.

Kompetensi Evaluasi Pendidikan mengharuskan pengawas sekolah memiliki kompetensi menyusun kriteria dan indikator keberhasilan pendidikan dan pembelajaran/bimbingan, membimbing guru dalam menentukan aspek-aspek yang penting dinilai dalam pembelajaran/bimbingan, menilai kinerja kepala sekolah, kinerja
guru dan staf sekolah dalamm elaksanakan tugas pokok dan tanggung jawabnya, memantau pelaksanaan pembelajaran/
bimbingan dan hasil belajar siswa serta menganalisisnya untuk perbaikan mutu pembelajaran/bimbingan, membina guru dalam memanfaatkan hasil penilaian untuk kepentingan pendidikan
dan pembelajaran/bimbingan, mengolah dan menganalisis data hasil
penilaian kinerja kepala sekolah, kinerja guru dan staf sekolah.

Kompetensi Penelitian Pengembangan meminta pengawas sekolah menguasai berbagai pendekatan, jenis, dan metode penelitian dalam pendidikan; menentukan masalah kepengawasan yang penting diteliti, menyusun proposal penelitian pendidikan, melaksanakan penelitian pendidikan untuk pemecahan masalah pendidikan, mengolah dan menganalisis data hasil penelitian pendidikan baik data kualitatif maupun data kuantitatif, menulis karya tulis ilmiah (KTI) dalam bidang pendidikan dan atau bidang kepengawasan dan memanfaatkannya untuk perbaikan mutu pendidikan, menyusun pedoman/panduan dan atau buku/modul yang diperlukan untuk
melaksanakan tugas pengawasan, memberikan bimbingan kepada guru tentang penelitian tindakan kelas, baik perencanaan maupun pelaksanaannya.

Kompetensi Sosial mampu bekerja sama dengan berbagai pihak
dalam rangka meningkatkan kualitas diri untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, aktif dalam kegiatan asosiasi pengawas sekolah.

Program Kerja Pengawas Sekolah

Pengawas sekolah melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial berdasarkan program kerja pengawasan. Program pengawasan ini mencakup:

  1. menyusun program pengawasan;
  2. melaksanakan pembinaan Guru dan/atau Kepala Sekolah;
  3. memantau pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan;
  4. melaksanakan penilaian kinerja Guru dan/atau Kepala Sekolah;
  5. melaksanakan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan pada sekolah binaan;
  6. mengevaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan tingkat kabupaten/kota atau provinsi;
  7. menyusun program pembimbingan dan pelatihan professional Guru dan Kepala Sekolah di KKG/MGMP/MGP dan/atau KKKS/MKKS dan sejenisnya;
  8. melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional bagi Guru dan Kepala Sekolah;
  9. melaksanakan pembimbingan dan pelatihan Kepala Sekolah dalam menyusun program sekolah, rencana kerja, pengawasan dan evaluasi, kepemimpinan sekolah, dan sistem informasi dan manajemen;
  10. mengevaluasi hasil pembimbingan dan pelatihan profesional Guru dan Kepala Sekolah.
beban kerja pengawas sekolah

Program kerja pengawas sekolah disusun dalam format program tahunan dan program semester. Program tahunan pengawas sekolah meliputi program untuk seluruh satuan pendidikan di bawah binaannya. Program semester memuat kegiatan-kegiatan pengawas sekolah yang akan dilakukan pada setiap sekolah binaan.

Pelaksanaan Program Pengawas Sekolah

Pengawas sekolah bekerja sama dengan berbagai pihak baik unsur dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, komite sekolah pada sekolah-sekolah binaan dalam rangka melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Pelaksanaan pengawasan pada satuan pendidikan, dilakukan dengan berbagai model, teknik dan metode yang disesuaikan dengan kondisi sekolah untuk menjamin akurasi data hasil pengawasan.

Metode kerja pengawas sekolah pada tugas pokok supervisi manajerial yang penting meliputi monitoring dan evaluasi, FGD/DKT,
metode Delphi, dan workshop.

Pelaksanaan pengawasan/supervisi akademik menerapkan pendekatan, model dan teknik yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah dan guru binaan. Pendekatan yang dimaksud mencakup non direktif, kolaboratif dan direktif. Model supervisi yang diperlukan dan dapat dilaksanakan meliputi Model Supervisi Saintifik, Model Supervisi Artistik dan Model Supervisi Klinis. Adapun teknik-teknik yang dikembangkan meliputi teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok, baik di dalam ataupun di luar kelas.

Laporan Pengawasan Pengawas Sekolah
  1. Laporan pembinaan guru dan/atau kepala sekolah binaan
  2. Laporan pemantauan pelaksanaan SNP
  3. Laporan penilaian kinerja guru dan/atau kepala sekolah
  4. Laporan pembimbingan dan pelatihan profesional guru di KKG/MGMP/MGBK/MGTIK dan/atau kepala sekolah di KKKS/MKKS dan sejenisnya
  5. Laporan pembimbingan dan pelatihan profesional kepala sekolah dalam pengelolaan sekolah
  6. Laporan evaluasi pelaksanaan dan hasil program pengawasan
  7. Laporan evaluasi hasil pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan/atau kepala sekolah

Demikian diskusi singkat tentang jabatan pengawas sekolah. Semoga menginspirasi pembaca yang berniat memasuki dunia tugas pok dan fungsi pengawas sekolah. Semangat !!

Best Practice Pengawas Sekolah

best-practice-pengawas-sekolah

Latar Belakang Best Practice Pengawas Sekolah

Best Practice Pengawas Sekolah bermunculan sebagai dampak pelaksanaan tugas pokok dan fungsi jabatan pengawas sekolah. Pengawas Sekolah adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup tugas, tanggung jawab dan wewenang untuk melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan. Pengawas Sekolah adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan. Kegiatan pengawasan adalah kegiatan Pengawas Sekolah dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, evaluasi hasil pelaksanaan program, dan melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional Guru. Berdasar pada pelaksanaan berbagai jenis tugas dan fungsi pengawas sekolah inilah lahir best practice pengawas sekolah.

best-practice-pegawas-sekolah
best-practice-pegawas-sekolah

Pengertian Best Practice Pengawas Sekolah

Best practice dapat diartikan sebagai pengalaman terbaik yang pernah dan atau masih dilakukan. Frasa pengawas sekolah merujuk kepada jabatan yang memiliki tugas, tanggung jawab menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, mengevaluasi hasil pelaksanaan dan melaksanakan pembimbingan dan pelatihan profesional guru.

Best practice pengawas sekolah dapat diartikan sebagai pengalaman terbaik seorang pengawas sekolah dalam menyusun program pengawasan, melaksanakan pengawasan, mengevaluasi pengawasan maupun melaksanakan pembimbingan dan pelatihan guru.

Best practice pengawas sekolah lazimnya disajikan dalam bentuk karya tulis ilmiah dan dibukukan. Penulisan best practice pengawas sekolah mengikuti pedoman terkait seperti di diskusikan pada posting penulisan best practice pengawas. Foto di atas mengilustrasikan bentuk dan redaksi kover best practice pengawas sekolah tahun 2019.

Contoh Best Practice Pengawas Sekolah

Best practice pengawas sekolah dapat berkembang dalam beraneka bentuk. Tentu saja tidak ada satu bentuk baku mengingat ini adalah pengalaman terbaik masing-masing pengawas sekolah. Sekedar contoh, penulis menyampaikan best practice dengan judul “Pemanfaatan Cloud Computing untuk Meningkatkan Ketersediaan Dokumen Supervisi pada Sekolah Binaan di Kota Banjarmasin”.

best practice pengawas sekolah
best practice pengawas sekolah

Best practice pengawas sekolah yang penulis ajukan pada ajang Pemilihan Pengawas Sekolah Berprestasi Tahun 2019 ini menceritakan pengalaman terbaik penulis sebagai pengawas sekolah dalam melaksanakan program pengawasan. Syukur alhamdulillah … karya sederhana ini mendapat apresiasi sebagai Juara 2 Pengawas Sekolah Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2019 yang lalu.

Pedoman Pembuatan Best Practice Pengawas Sekolah

Best practice pengawas sekolah menurut pedoman terdiri atas tiga bagian utama yaitu bagian awal, bagian isi dan bagian penutup.

Bagian awal meliputi halaman judul (cover), halaman pernyataan keaslian karya yang ditandatangani, halaman lembar persetujuan dari atasan langsung dan atau pejabat terkait, abstrak atau ringkasan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran.

Bagian isi terdiri atas:

  • Bab Pendahuluan, berisi latar belakang, masalah, tujuan, dan manfaat best practice yang dilaksanakan.
  • Bab Kajian Pustaka, berisi teori, kebijakan, pedoman dan/atau praktik yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan masalah.
  • Bab Metode, berisi tentang prosedur dan perangkat atau instrumen, dan cara pemecahan masalah.
  • Bab Hasil dan Pembahasan, Penyajian dan analisis data yang mencakup keadaan awal, proses, dan hasil akhir yang diperoleh dari hasil pelaksanaan serta dampaknya bagi komunitas sekolah.
  • Bab Simpulan dan Rekomendasi

Bagian Penutup berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran

Teknik Penulisan Best Practice Pengawas Sekolah

Pada umumnya teknik penulisan best practice di berbagai jenjang kurang lebih serupa. Teknik penulisan best practice telah diatur sebagai berikut:

  • Sampul depan yang digunakan pada karya best practice sebagaimana ditunjukkan pada gambar di atas.
  • Jumlah halaman karya 15-20 halaman tidak termasuk lampiran, kertas ukuran A4.
  • Karya diketik dengan spasi 1,5; huruf Times New Roman; ukuran huruf 12; batas tepi/margin kiri 4 cm, kanan 3 cm, atas 3 cm, dan bawah 3 cm. Khusus untuk ukuran huruf tabel dan gambar disesuaikan dengan kebutuhan.
  • File karya Best Practice dibuat dalam satu file yang utuh tidak terpisah-pisah antara judul-kata pengantar-daftar isi-bab-daftar pustaka.

Pada teknik penulisan ini menurut penulis yang menjadi tantangan adalah pada aturan item ke 4 yaitu karya best practice ditulis menjadi satu file tidak terpisah antar bagian. Hal ini meminta kita menerapkan teknik penulisan dokumen dengan beberapa teknik yang jarang digunakan (beberapa yang lain mungkin rajin atau tidak tahu karena diketikkan orang lain).

ASPEK KEASLIAN BEST PRACTICE PENGAWAS SEKOLAH

Best practice pengawas sekolah sangat menekankan keaslian naskah. Hal ini diukur dengan pengecekan similaritas karya dimana peserta pemilihan diminta mengirimkan naskah dalam format MS word. Karya best practice maksimal boleh memiliki similaritas maksimal 30 %. Oleh karena itu, penulis menyarankan agar rekan-rekan menekan sekecil mungkin ‘copy paste’ yang kadang tidak kita sadari jumlahnya.

Demikian diskusi kecil tentang Best practice pengawas sekolah . Semoga bermanfaat bagi rekan-rekan yang memerlukannya.

Nomor Halaman Berbeda

nomor-halaman-berbeda

Nomor halaman berbeda diterapkan pada karya ilmiah. Nomor halaman berbeda tampak pada disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian, karya ilmiah, best practice dll. Bagaimana membuat nomor halaman berbeda pada MSWord?

Contoh Nomor Halaman Berbeda

nomor halaman berbeda
contoh nomor halaman berbeda

Nomor halaman berbeda sudah menjadi standar penulisan karya ilmiah. Setidaknya sepengetahuan penulis seperti pada penulisan best practice. Nomor halaman dibuat agar memudahkan pembaca mengakses isi karya tulis dengan mudah dan cepat. Aturan yang lazim ialah (1) Bagian pendahuluan biasanya menggunakan angka romawi kecil ditulis di bagian bawah tengah. (2) Bagian isi yang meliputi bab-bab pembahasan menggunakan nomor halaman dengan angka arab. Pada awal bab nomor halaman diletakkan di bawah tengah halaman sedang lanjutannya diletakkan di atas kanan halaman. Sebagian rekan masih ada yang belum biasa (kalau bisa nya pasti bisa) menerapkan aturan penulisan seperti itu menggunakan MSWord. Akibatnya seringkali karya tulis yang seharusnya satu file kemudian dipisah-pisah menjadi beberapa file.

Membuat nomor halaman mungkin dapat dilakukan dengan beberapa cara. Namun admin hanya bisa yang berikut ini saja …

Fitur Penunjang Nomor Halaman Berbeda

Nomor halaman berbeda dapat kita buat menggunakan MSWord. Untuk melakukan hal ini kita perlu sedikit lebih jeli lagi mengenali fitur penunjang yang tersedia pada MSWord. Fitur pembuatan nomor halaman khususnya berada pada kelompok fitur header dan footer. Namun pengaturannya berkaitan juga dengan kelompok perintah pada Page Layout khususnya pada Insert Page dan Sections Break.

Insert Page sudah admin sarankan digunakan pada penambahan halaman (walaupun masih kosong) pada postingan Penulisan Best Practice. Nah untuk melengkapi uraian pembuatan nomor halaman berbeda kita akan menggunakan dokumen yang diilustrasikan pada postingan penulisan best practice tersebut. Admin berasumsi pembaca mencoba contoh yang disarankan tersebut atau bisa menyesuaikan dengan contoh dokumen anda sendiri.

Seperti diketahui bagian pendahuluan biasanya menggunakan nomor halaman angka romawi kecil dan bagian isi menggunakan nomor halaman dengan angka arab. Nah … kedua bagian ini perlu dipisahkan dengan memberi tanda Section Break > Next page (karena harus ke halaman baru). Setelah pemberian tanda ganti section dan sekaligus ganti halaman ini barulah pemberian nomor halaman dapat diterapkan.

Nomor halaman sejenis maupun tidak sejenis peletakannya di tempatkan pada bagian header atau footer halaman. Karena itu fitur lain yang perlu pembaca cermati adalah fitur atau kelompok perintah ini. Peletakan nomor halaman di bagian atas berarti ditempatkan pada header sedang peletakan di bawah halaman berarti berada pada footer.

Langkah Membuat Nomor Halaman Berbeda

Nah … sekarang tiba saatnya kita praktekkan persiapan dan pemberian nomor halaman ini. Dokumen kerangka penulisan best practice yang sudah ditambahkan halaman kosong seperti pada postingan penulisan best practice terdiri atas 18 halaman. Bagian awal nantinya harus bernomor angka romawi kecil dan bagian isi dengan angka arab. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Tempatkan kursor pada posisi paling kiri dan paling atas sebelum huruf B pertama pada halaman BAB 1, berikan perintah Page Layout > Breaks > Section Break Next Page
  2. Hasil perintah tersebut pada halaman sebelumnya muncul tanda garis putus-putus <Section Breaks Next Page>
  3. Pindahkan kursor halaman sebelum halaman judul
  4. Insert, Page Number, Format Page Number
  5. Tentukan Number format : angka romawi kecil , Start at : i , OK
  6. Insert, Page Number, Bottom of page/Plain Number 2
  7. Dari langkah 6 di atas, Close Header Footer
  8. Dari halaman judul dengan Backspace hapus halaman kosong sehingga halaman judul menjadi halaman i dan halaman sebelum BAB 1 adalah halaman viii.
  9. Pindahkan kursor ke awal BAB 1 untuk membuat nomor halaman dengan angka arab. Pada judul bab nomor halaman diposisikan di bawah sedang halaman lanjutannya diposisikan di atas.
  10. Insert, Page Number, Format Page Number
  11. Tentukan Number format : angka arab , Start at : 1 , OK
  12. Insert, Page Number, Top of page / Plain Number 3
  13. Klik Different first page dan matikan Link to previous
  14. hapus no halaman awal bab di bagian header kemudian pindah ke footer beri nomor halaman
  15. Lakukan hal serupa pada halaman bab-bab selanjutnya …

Nah … dengan sedikit tambahan kejelian … pasti bisa diselesaikan pemberian nomor halaman berbeda ini. Ok … begitu dulu … posting berikutnya dapat kita lanjut pada pembuatan Daftar Isi Otomatis / mudah diupdate. Semoga menginspirasi ….

RPP 1 Lembar / Halaman

rpp-1-lembar-halaman

RPP 1 lembar/ halaman mengagetkan praktisi pendidikan. RPP 1 lembar/halaman menjadi hot issue terbaru akhir 2019. RPP 1 lembar/ halaman salah satu implementasi dari 4 (empat) pokok kebijakan “Merdeka Belajar” Nadiem Anwar Makarim Mendikbud RI . Apakah harus Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini dibuat 1 lembar / halaman saja? Jangan buru-buru … baca dulu …

Daftar Isi

Rujukan RPP 1 lembar / halaman

RPP 1 lembar/ halaman menjadi diskusi dinamis praktisi pendidikan baik guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, pengamat pendidikan maupun pembina pendidikan lainnya.  RPP 1 lembar / halaman bukanlah perintah ataupun peraturan. Admin mendasarkan pendapat ini pada Surat Edaran Mendikbud No. 14 tahun 2019 tentang Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Dalam edaran yang ditujukan kepada seluruh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia ada 4 (empat) hal yaitu:

  1. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dilakukan dengan prinsip efisien, efektif, dan berorientasi pada murid.
  2. Bahwa dari 13 (tiga belas) komponen RPP yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, yang menjadi komponen inti adalah tujuan pembelajaran , langkah-langkah (kegiatan) pembelajaran, dan penilaian pembelajaran (assessment) yang wajib dilaksanakan oleh guru, sedangkan komponen lainnya bersifat pelengkap.
  3. Sekolah, kelompok guru mata pelajaran sejenis dalam sekolah, Kelompok Kerja Guru/Musyawarah Guru Mata Pelajar an (KKG/ MGMP), dan individu guru secara bebas dapat memilih, membuat, menggunakan, dan mengembangkan format RPP secara mandiri untuk sebesar-sebesarnya keberhasilan belajar murid.
  4. Adapun RPP yang telah dibuat tetap dapat digunakan dan dapat pula disesuaikan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 1, 2, dan 3.

Sebagai tambahan Surat Edaran Mendikbud No. 14 tahun 2019 tentang Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di atas dilampiri narasi tanya jawab sebagai berikut:

Apa yang menjadi pertimbangan penyederhanaan RPP?

Guru-guru sering diarahkan untuk menulis RPP dengan sangat rinci sehingga banyak menghabiskan waktu yang seharusnya bisa lebih difokuskan untuk mempersiapkan dan mengevaluasi proses pembelajaran itu sendiri

Apa yang  dimaksud dengan   prinsip  efisien, efektif  dan  berorientasi pada  murid?

  • Efisien berarti penulisan RPP dilakukan dengan tepat dan tidak menghabiskan banyak waktu dan tenaga.
  • Efektif berarti penulisan RPP dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
  • Berorientasi pada murid berarti penulisan RPP dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan, ketertarikan, dan kebutuhan belajar murid di kelas.

Apakah RPP dapat dibuat dengan singkat, misalnya hanya satu halaman?

Bisa saja, asalkan sesuai dengan prinsip efisien, efektif, dan berorientasi kepada murid. Tidak ada persyaratan jumlah halaman.

Apakah ada standar baku untuk format penulisan RPP?

Tidak ada. Guru bebas membuat, memilih, mengembangkan, dan menggunakan RPP sesuai dengan prinsip efisien, efektif, dan berorientasi pada murid

Bagaimana dengan format RPP yang sudah dibuat guru?

  • Guru dapat tetap menggunakan format RPP yang telah dibuatnya.
  • Guru dapat pula memodifikasi format  RPP yang sudah dibuat sesuai dengan prinsip  efisien,  efektif, dan berorientasi kepada murid
  • Guru dapat pula memodifikasi format RPP yang sudah dibuat sesuai dengan prinsip  efisien, efektif, dan berorientasi kepada murid

Berapa  jumlah komponen dalam RPP?

  • Ada 3 komponen inti, yaitu tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran (kegiatan), dan penilaian pembelajaran (asesmen). Komponen-komponen lainnya adalah pelengkap.
  • Tujuan pembelajaran ditulis dengan merujuk kepada kurikulum dan kebutuhan belajar murid. Kegiatan belajar dan asesmen dalam RPP ditulis secara efisien.

Berdasarkan isi surat edaran tidak secara tegas menyatakan RPP 1 lembar / halaman namun menjawab suatu pertanyaan dimungkinkan RPP 1 lembar / halaman. RPP 1 lembar / halaman tersurat dalam jawaban Mendikbud yang dikutip dalam blog Kemendikbud https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/mendikbud-tetapkan-empat-pokok-kebijakan-pendidikan-merdeka-belajar

RPP Standar Proses Permendikbud No. 22 tahun 2016

Komponen RPP yang dimaksud menurut Permendikbud No. 22 tahun 2016 (Standar Proses) seharusnya meliputi :

  • identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan;
  • identitas mata pelajaran atau tema/subtema;
  • kelas/semester;
  • materi pokok;
  • alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
  • tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
  • kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi;
  • materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi;
  • metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai;
  • media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran;
  • sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
  • langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan
  • penilaian hasil pembelajaran.

Komponen RPP 1 lembar halaman menurut Surat Edaran Mendikbud No. 14 tahun 2019

Komponen minimal yang harus ada pada RPP edaran Mendikbud adalah sebagai berikut :

  • tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
  • langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan
  • penilaian hasil pembelajaran.

Sesungguhnya bagi admin, RPP model ini menyisakan pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini :

  1. Apakah hanya 3 (tiga) hal itu yang akan dituliskan?
  2. Tidakkah kita ingin menuliskan identitas sekolah meski dengan versi minimal?
  3. Tidakkah kita ingin menuliskan identitas mapel, isi KD atau minimal nomor KD?
  4. dan beberapa pertanyaan lainnya …
Cara Membuat RPP 1 lembar halaman berbasis Kurikulum 2013

RPP 1 lembar halaman sesungguhnya perlu tetap merujuk pada implementasi Kurikulum 2013. Oleh karena itu dalam mengembangkan RPP ini sangat direkomendasikan untuk melakukan tahapan:

  • Analisis SKL KI KD
  • Analisis Materi Pembelajaran
  • Analisis Penerapan Model Pembelajaran
  • Analisis Penilaian Hasil Pembelajaran

Setelah melakukan langkah-langkah di atas dikembangkan silabus. RPP 1 lembar halaman kemudian dapat ditulis/disusun berpedoman pada silabus.

Contoh RPP 1 lembar halaman berbasis Kurikulum 2013 (Discovery)

Satuan Pendidikan                                         :  SMKN 5 BANJARMASIN

Mata Pelajaran                                                :  Simulasi Digital

Kompetensi Keahlian                                    :  Teknik Audio Video

  Materi Pokok / KD                                           :     3.9 Menerapkan teknik penelusuran Search Engine

4.9 Melakukan penelusuran informasi

Kelas/Semester                                               :  X/1

Tahun Pelajaran                                              :  2019/2020

Alokasi Waktu                                                  :  3JP @ 45 menit

  1. Tujuan Pembelajaan

1.      Melalui diskusi dan menggali informasi peserta didik dapat (1) mengidentifikasi jenis-jenis mesin pencari, (2) menjelaskan fungsi mesin pencari, (3) menjelaskan cara penggunaan mesin pencari dengan penuh percaya diri.

2.      Melalui latihan peserta didik dapat (4) mengoperasikan mesin pencari (5) melakukan pencarian informasi dengan cepat dan terampil

  • Kegiatan Pembelajaran
  • Guru masuk kelas tepat waktu
  • Peserta didik dipersilahkan oleh guru untuk berdoa bersama
  • Memberi pertanyaan : “Apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan informasi yang dapat dipercaya dengan cepat secara online?”
  • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan penilaian pembelajaran.
  • Membagi peserta didik dalam kelompok kecil 5-6 orang.
  • Guru menampilkan cerita/gambar/ilustrasi/video keuntungan yg diraih terampil menggunakan mesin pencari.
  • Peserta didik membuat catatan hal-hal yang ditampilkan dalam cerita/gambar/ilustrasi/video tersebut.
  • Menugaskan kelompok peserta didik mendiskusikan (a) apa yang dimaksud mesin pencari (b) jenis-jenis mesin pencari (c) fungsi-fungsi mesin pencari (d) cara menggunakan mesin pencari.
  • Peserta didik dipersilahkan untuk membaca buku terkait topik tersebut, atau menggunakan media online yang bisa dijangkau.
  • Menugaskan internal kelompok peserta didik menyimpulkan (a) apa yang dimaksud mesin pencari (b) jenis-jenis mesin pencari (c) fungsi-fungsi mesin pencari (d) cara menggunakan mesin pencari.
  • Menugaskan internal kelompok peserta didik untuk membuat perbandingan antar search engine berupa tampilan layout masing-masing mesin pencari.
  • Setelah semua kelompok siap, guru mengajak kelompok peserta didik menemukan informasi tertentu, dengan pembatasan waktu pencarian. Mengulangi pencarian informasi tertentu beberapa kali sambil menunjukkan hasil pencarian oleh guru
  • Guru mengajak semua kelompok peserta didik untuk mendiskusikan dan menarik kesimpulan (a) apa yang dimaksud mesin pencari (b) jenis-jenis mesin pencari (c) fungsi-fungsi mesin pencari (d) cara menggunakan mesin pencari dan cara paling efisien pada langkah 11.
  • Guru membimbing peserta didik menyimpulkan (a) apa yang dimaksud mesin pencari (b) jenis-jenis mesin pencari (c) fungsi-fungsi mesin pencari (d) cara menggunakan mesin pencari dan cara paling efisien (e) proses pencarian informasi yang ditugaskan.
  • Guru memberi penguatan kesimpulan yang dibuat peserta didik
  • Guru mempersilahkan peserta didik mengerjakan soal evaluasi online yang sudah disiapkan.
  • Guru memberikan Remedial berupa penugasan pada peserta didik yang nilainya di bawah KKM dan memberikan pengayaan bagi peserta didik yang ingin menambah nilai.
  • Menyampaikan hasil-hasil kegiatan pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang akan datang.
  • Mempersilahkan peserta didik berdoa.
  • Menutup pembelajaran.
  • Assessment

Penilaian sikap                        : jurnal sikap harian

Penilaian pengetahuan       : tes tertulis / online soal pilihan ganda dan uraian (… lampirkan  soal/instrumen evaluasi …..) Penilaian keterampilan                  :               proses dan hasil (… lampirkan  soal/instrumen evaluasi ….)

Mengetahui,
Kepala Sekolah    

Drs.H.Syahrir,MM                   NIP. 19671231199203105
Banjarmasin, 12 Maret 2020
Guru Mata Pelajaran                               
Drs. Endarta, M.Eng. NIP. 19610824 198703 1 011

Bagaimana dengan rekan-rekan? Kembali ke atas? Ok … demikian dulu diskusi RPP 1 lembar atau RPP 1 halaman …

Rujukan : Surat Edaran Mendikbud No. 14 tahun 2019